Reader Mode

PILIHAN SENDIRI

Leny Marlyna  | 26 Ags 2024  | 107 views  |

Masa SMA berlalu sangat cepat, rasanya seperti baru kemarin aku menerima surat penerimaan dari sekolah tempatku menuntut ilmu ini. Memang bukan awal yang mudah bagiku melewati masa awal SMA sendiri di kota baru, berpisah dengan sahabat dan teman-teman masa SMP, tidak seperti yang telah kami rencanakan. Pekerjaan orang tua mengharuskan aku dan keluargaku pindah keluar kota, ini yang menjadikan hidupku seolah dimulai dari awal lagi. Seperti tidak mungkin namun ternyata aku berhasil melewati masa tiga tahun ini.

         Komunikasi tetap terjalin antara aku dan sahabatku yang jauh di seberang sana. Setiap harinya kami tidak pernah lupa untuk saling bertukar cerita. Bahkan hal yang tidak terlalu penting pun sering kami ceritakan satu sama lain. Cukup sulit untuk kami bertemu karena jarak yang cukup jauh. Dan lagi aku tidak berani jika harus pergi sendiri, tidak yakin juga mereka akan mengizinkanku, ibu dan ayah selalu sibuk dengan pekerjaannya. Hari libur pun menjadi hari istirahat bagi mereka, aku tidak tega jika harus mengajak mereka untuk pergi ke sana.

          Aku dan sahabatku berencana untuk melanjutkan  perguruan tinggi di universitas yang sama. Universitas yang kami tuju adalah universitas ternama yang cukup sulit ditembus, bukan berarti tidak mungkin. Karena kami telah melihat dilaman LTMPT saat pengumuman SBMPTN kemarin, dan kami diterima. Orang tua kami membebaskan untuk masuk ke universitas manapun, dengan itu menjadikan kami berkesempatan bersekolah ditempat yang sama.

          Aku belum memberitahu orang tuaku mengenai hasil SBMPTN, bahkan universitas yang akan ku tuju saja mereka belum tahu. Mereka selalu sibuk, sekalipun ada waktu luang aku selalu mendadak lupa. 

          Saat ini kami sedang duduk di meja makan, menyantap sarapan bersama. Ini merupakan momen langka karena biasanya mereka sudah berangkat kerja sehingga aku sarapan seorang diri. 

          Ting

          Ponselku berbunyi, notifikasi WhatsApp dari Lina-sahabatku. “Hei, kau belum bilang, kan? Jangan lupa”. Membaca pesan itu membuatku teringat. Belum ku ucap sepatah katapun, Ibu lebih dulu bertanya padaku.

 

          “Maaf Ibu sibuk akhir-akhir ini. Kamu belum memberitahu Ibu, mau masuk ke universitas mana?”

          Kalian selalu sibuk ucapku dalam hati. “Ibu dan Ayah bilang aku bebas memilih universitas mana pun, kan? Aku mau masuk UI, dan aku diterima di SBMPTN kemarin, Lina juga mau masuk ke sana”, jawabku sumringah. 

          “Hebat, tapi apakah tidak terlalu jauh?”, tutur Ayah membuatku sedikit ciut. 

          “Iya, Ibu juga merasa begitu, kenapa tidak memilih universitas di kota ini saja? Disini juga ada universitas yang bagus” 

          “Tapi aku sudah diterima, mau lihat hasilnya? Waktu itu aku screenshot”. Dengan perasaan gundah aku membuka galeri dan menunjukkannya pada mereka. 

          “Tidak usah diambil, masuk universitas di kota ini saja, jalur mandiri” tegas Ibu.

          “Kalian bilang aku bebas memilih universitas manapun”

          “Benar, tapi bukan berarti kamu bisa memilih universitas yang jauh, sayang”

          “Aku sudah diterima”

          “Tidak perlu diambil”

          “Lina juga mau melanjutkan di sana, kami telah merencanakan ini dari jauh-jauh hari, bahkan sejak awal kelas 12”

          “Kamu bisa komunikasikan lagi dengan Lina”

          Nafsu makanku hilang, kebahagiaan itu hanya sesaat. “Kenapa Ibu baru bilang sekarang?” 

          “Ibu dan Ayah terlalu sibuk, maafkan kami. Bagaimanapun Ibu tidak mau hidup jauh dari anak Ibu satu-satunya” 

 

          “Memangnya kalau aku melanjutkan perguruan tinggi disini kalian akan selalu bersamaku? Tidak ada pernah membiarkan ku sendiri lagi? Setiap hari aku selalu sendiri, ini saja merupakan momen langka …