Secangkir Kopi Kemerdekaan,
Wewangian
Tersapu
angin sepoy
Menyapa
jagat
Sulit
dipercaya rasa
Ratusan
tahun
Berkelebat
resah tanpa wangi
Tersendak mereka kaum penjajah
Kini
tujuh puluh sembilan berlalu
Rasa
resah seperti berulang
Berbingkai
makmur
Disaksikan
raga berkalang
Tulang-tulang
tak bernama
Bersemayam
rebah ikhlas
Di
bawah subur
Tanah
bersimbah darah
Sejak
tujuh puluh sembilan lalu
Berujung
panen raya
Semaian pijakan kita merdeka
Benarkah kita merdeka ?
Baju
lusuh itu masih terlihat
Tersenyum
dalam kerut kulit-kulit
Dan
hari ini bertelusur jalan
Berkepal
tangan berpekik
Merdeka
Tanpa
peduli
Rumah
kumuh huniannya
Bertengger,
unik diantara pancang bertingkat
Semua
berpijak merdeka
Luluran
raga Pertiwi
Nan
elok bak bidadari
Dan
itu masih milik kita
Ada
cengkeram kuat
Menancap
cantik tak berasa
Hasil
panen perut pertiwi
Menjadi
luka juga tak berasa
Nyaman
terlanjur berlumur
Terhasut
hasrat cinta
Berbaur
bergulung ambisi
Syahwat kita terbelenggu
Sesama
kerabat telah berbeda
Berpeluk
kata waris sama
Teks
proklamasi
Sang
saka dwi warna
Dan
burung garuda
Semua
terlukis di dada
Simbol
cinta untuk pertiwi
Menyembunyikan
literasi hati
Kita
terlena
Kita
tak pernah resah
Berkalung
medali derita
Berujung
hunian pusara
Taman makam pahlawan
Dan
kini kita melintang
Diantara
jalan menuju pulang
(Dirgahayu
indonesia)